Cerita Jorn Andersen Latih Timnas Korea Utara; Diawali Penelepon Misterius

PERStasi – Jorn Andersen, mendapatkan pengalaman menarik dan menginspirasi, saat menjadi pelatih Tim Nasional (Timnas) sepak bola Korea Utara.

Kontroversi menyelimutinya, karena ia orang Jerman kelahiran Norwegia, memilih negara yang paling besar kemungkinannya menjadi pemicu Perang Dunia Ketiga.

Jorn menjadi manajer asing untuk tim nasional pertama, bagi negara Korut sejak tahun 1991.

Keputusannya bahkan dikritik banyak orang.

Mengenal Jorn Andersen

Jorn Andersen tercatat sebagai pemain Timnas Norwegia, semasa masih aktif menjadi pesepak bola di periode 1980-an hingga awal tahun 2000 ia pensiun.

Berposisi sebagai penyerang, ia cukup ampuh membobol gawang lawan, terutama ketika membela klub Jerman, Eintracht Frankfurt.

Musim 1989/1990 ia menciptakan 18 gol di liga, dan membawa klubnya secara mengejutkan finis di peringkat tiga Bundesliga.

Selain Frankfurt, ia pernah membela klub Jerman lainnya, yaitu Hamburger SV, Fortuna Dusseldorf, dan Dynamo Dresden.

Karena itulah, meskipun pernah membela Timnas Norwegia, ia pun mengambil kewarganegaraan Jerman juga.

Karir Pelatih

Usai pensiun, Andersen masuk dunia manajerial, dengan memulai dari klub divisi bawah Jerman, Rot-Weiss Oberhausen.

Sesudah itu, Andersen sempat menjadi asisten manajer di Borussia Mönchengladbach.

Lalu pindah ke Yunani untuk menakhodai klub Skoda Xanthi.

Ia akhirnya kembali ke Jerman, menjadi pengganti Jürgen Klopp di FC Mainz 05.

Kiprahnya cukup sukses di Mainz, dengan berhasil membawa promosi ke Bundesliga, serta masuk ke semifinal DFB-Pokal di tahun 2009.

Panggilan Misterius dari Korut

Petualangan Andersen bersama Korea Utara dimulai di tahun 2016 lalu.

Saat itu, ia tengah melatih klub Austria, Austria Salzburg.

Ia mendapat panggilan misterius di ponselnya.

Si penelepon menawarkan, untuk menjadi seorang manajer Timnas suatu negara di Asia.

Anehnya, sang penelepon tak mau mengungkapkan identitas atau negara mana yang dimaksud.

Setelah beberapa kali berbicara lewat telepon, Andersen baru mengetahui bahwa yang menghubunginya adalah perwakilan Timnas sepak bola Korut.

Ia pun terkejut. Meski begitu, tetap melanjutkan proses negosiasi, yang berjalan hingga berbulan-bulan.

Andersen sendiri hanya membutuhkan persetujuan dari istrinya, Ulla, sebelum akhirnya meneken kontrak selama delapan bulan bersama Chollima.

Salah satu bentuk kesepakatannya, Andersen harus menetap di Korea Utara.

Senang Menikmati Korea Utara

Setelah tinggal di Korut, Andersen mengakui negara komunis tersebut sangat bersih dan tenang.

Serta, tak ada tekanan berarti dari media maupun penduduk soal sepak bola.

“Ketika datang ke sana untuk pertama kali, saya terkejut. Sangat bersih, sangat tenang, tak banyak mobil di sana. Sangat mudah untuk tinggal di sini karena tak ada tekanan dari media ataupun publik.” ujarnya.

Pria yang lahir di Fredrikstad, Norwegia ini, mengaku senang dengan sikap pemain Korut yang total dan penurut.

Ia mengungkapkan, di Eropa banyak pemain yang membangkang, terutama ketika saat harus menjalani sesi latihan fisik.

Sementara pemain-pemain dari Korut berbeda 180 derajat. Bagi Andersen, mereka semua sangat patuh atas instruksi.

“Ketika anda meminta pemain Korut untuk berlari, mereka akan melakukannya. Saya suka mentalitas orang-orang di negara ini. Mereka akan melakukan apapun yang anda minta,” ucapnya.

Rakyat Korut terbiasa tunduk dan patuh, kepada pihak yang punya otoritas.

Sehingga, cukup menyenangkan bagi manajer sepak bola yang butuh kekuasaan penuh.

Andersen mendapatkan fasilitas cukup nyaman, diberikan kebebasan untuk berjalan-jalan, bermain golf, makan di restoran, dan hal-hal semacamnya.

“Saya senang berada di sini. Anda mungkin membaca banyak hal buruk tentang negeri ini, namun hampir semuanya tidak benar. Semuanya berjalan indah bagi saya,” bebernya.

Hidup Andersen mungkin memang bahagia di Korea Utara, seolah mematahkan stigma yang ada tentang negara tersebut.

Kendala Melatih Timnas Korut

Meski terlihat enak, bukan berarti tak memiliki kendala.

Pertama tentang stamina pemain, yang terkuras habis karena sistem turnamen di Korut yang sedikit aneh.

Sebelum kedatangannya, tak ada liga untuk klub-klub berkompetisi, melainkan turnamen bulanan yang tiap laganya diadakan per tiga hari sekali.

Setelah ia datang, sebuah liga diadakan untuk kompetisi antar klub.

Selain itu, Andersen juga mengakui mengalami masalah dalam pemilihan pemain.

Makin banyak pemain-pemainnya yang berkiprah di Eropa, seperti gelandang sayap So Hyon-uk yang bergabung ke klub Bosnia, Zrinjski Mostar.

Hal itu mengganggu Andersen memilih pemain untuk pertandingan, sulit dilepas oleh klubnya.

Kiprahnya bersama Korut masih jauh dari kata sempurna.

Ia memang berhasil meraih kemenangan, kala melawan Malaysia di laga Kualifikasi Piala Asia 2019.

Laga dua leg yang diadakan di Thailand karena situasi dua negara yang sempat memanas usai pembunuhan kakak tiri Kim Jong-un, Kim Jong-nam, pada Februari, berhasil dimenangi Korut dengan agregat 8-2.

Sayangnya, di laga melawan tim yang lebih kuat atau bahkan setara, Andersen tak mampu menang, seperti dikalahkan Thailand di Piala Raja Thailand bulan Juli lalu dengan skor 3-0, dan Lebanon di Kualifikasi Piala Asia dengan agregat 7-2.

Kritikan dan Dukungan

Ia juga mendapat kritikan karena menerima pekerjaan dari Korea Utara.

Salah satunya datang dari Badan Amnesti Internasional, yang diwakilkan oleh Sekretaris Jendralnya, John Peder Egenaes, yang menyebutkan bahwa pilihan Andersen ‘mengejutkan’. Sebab, pengurus sepak bola Korut dinilai sangat terikat kepada rezim yang mengerikan.

Kendati demikian, ia mendapat dukungan dari sesama pelatih, seperti pelatih Timnas Norwegia, Per-Mathias Hogmo, yang menyebutkan hal itu adalah keputusan menarik.

Andersen menegaskan, jalan yang ia ambil murni berdasarkan sisi sepak bola.

“Sama sekali tak tertarik pada paham politik yang ada di Korut. Akan lebih baik apabila mampu fokus 100 persen ke sepak bola tanpa memikirkan politik, senjata nuklir, atau hal-hal semacam itu yang bisa mengganggu pikirannya selama tinggal di Pyongyang,” ujarnya.

(*)

(Artikel disalin dari Football Tribe, yang juga disarikan dari tulisan James Montague di Bleacherreport berjudul: Inside The Secret World of Football in North Korea).

Pos terkait