FIFA Kalah di Pengadilan atas Gugatan Eks Gelandang Madrid Lassana Diara

PERStas – Mantan pemain sepak bola profesional klub Real Madrid, Arsenal, hingga Chelsea, Lassana Diarra menang di pengadilan Uni Eropa (CJEU), atas gugatan ke federasi sepak bola internasional (FIFA).

FIFA harus membayar ganti rugi sebesar €65 juta atau Rp1,2 triliun, atas karier Diarra yang terhenti akibat sistem transfer.

Hal itu menjadi sejarah baru, untuk menjadi contoh bagi atlet profesional agar berani melawan sistem yang merugikan.

Kasus bermula pada 2014, Diarra berselisih terkait gaji dengan klubnya saat itu, Lokomotiv Moscow.

Lass menolak berlatih setelah berseteru dengan pelatih Leonid Kuchuk, dan enggan menyepakati proposal pengurangan gaji.

Kontrak gelandang bertahan kelahiran tahun 1985 itupun diputus, oleh klub asal Rusia tersebut.

Bahkan, Mahkamah Arbitrase Olahraga (CAS) justru memerintahkan Diarra membayar €10 juta kepada Lokomotiv, karena dianggap melanggar kontrak.

Sebuah regulasi FIFA di bagian Peraturan Tentang Status dan Transfer Pemain (RSTP), mencegah pemain bergabung dengan klub baru, jika ia mengakhiri kontrak di klub lamanya lebih cepat dari durasi tertera, tanpa alasan yang sah.

Putusan CAS, ditambah regulasi FIFA, menciptakan apa yang disebut pengacara Diarra sebagai “risiko finansial yang tak dapat diprediksi dan berpotensi sangat tinggi” bagi klub mana pun yang ingin merekrutnya.

Akibatnya, sengketa hukum tersebut efektif menghentikan laju kariernya.

Kepindahan Diarra ke klub Belgia, Sporting Charleroi, pun batal, dan ia tak bisa bermain sepakbola profesional selama lebih dari setahun

Didukung FIFPRO—serikat pesepakbola dunia—, Diarra membawa kasus ini ke Pengadilan Uni Eropa (CJEU) dengan argumen bahwa butir dalam aturan RSTP FIFA secara ilegal telah melanggar hak “kebebasan bergerak pekerja” di bawah hukum UE.

Pada Oktober 2024, CJEU berpihak pada Diarra, menyebut aturan FIFA memang menimbulkan “risiko finansial yang tak dapat diprediksi dan berpotensi sangat tinggi” bagi pemain.

Putusan ini dianggap bersejarah dalam kancah hukum olahaga, menargetkan hak pemain untuk mengakhiri kontrak lebih awal.

Putusan ini berpotensi melahirkan revolusi yang disejajarkan dengan Bosman ruling 1995, yang dulu membuka jalan untuk transfer bebas saat kontrak pemain berakhir

Kini, setelah dasar hukum ditegakkan, kasus ini memasuki babak baru: penututan kompensasi.

Diarra menuntut €65 juta (Rp1,2 triliun) dari FIFA dan federasi sepak bola Belgia sebagai ganti rugi.

Didukung FIFPRO, bekas penggawa timnas Prancis itu menegaskan, perjuangannya bukan semata untuk dirinya sendiri. Melainkan juga untuk melindungi pemain menjanjikan dan kurang dikenal yang tak punya sarana finansial maupun mental untuk melawan FIFA di pengadilan.

Sentimen ini melahirkan gugatan kelompok atau class action bertajuk “Justice for Players”, yang seekarang bersiap untuk menuntut ganti rugi miliaran euro atas nama sekitar 100.000 pesepakbola yang juga terdampak aturan FIFA sejak 2002

Karena FIFA menolak penyelesaian damai, kasus ini kembali ke pengadilan nasional Belgia untuk penegakan.

Kuasa hukum Diarra, Martin Hissel, memperkirakan putusan keluar dalam 12-15 bulan.

Kini, target jangka pendek Diarra adalah menerima kompensasi yang diyakininya sebagai haknya, akibat kerusakan yang dialami karier sepakbolanya.

Meski sudah gantung sepatu, Lass kini menjadi simbol revolusi untuk hak-hak pemain.


(disalin dari Goal.com Indonesia)

Pos terkait